Minggu, 28 April 2019

Inklusi Sosial


Inklusi sosial adalah upaya menempatkan martabat dan kemandirian individu sebagai modal utama untuk mencapai kualitas hidup yang ideal.


IFLA dan Inklusi sosial

The International Federation of Library Associations and Institutions (IFLA) mulai membahas pada tahun 2007 pada pertemuan World library and information congress: 73rd ifla general conference and council 19-23 august 2007, durban, south africa. 

Konsep inklusi sosial pertama kali muncul pada tahun 1970-an di Prancis sebagai respon terhadap krisis kesejahteraan di negara-negara Eropa, yang memiliki dampak yang meningkat pada kerugian sosial di Eropa. Konsep ini menyebar ke seluruh Eropa dan Inggris sepanjang tahun 1980-an dan 90-an. 


Melalui tulisan Prof Ina Fourie Department of Information Science, University of Pretoria dengan judul tulisan "Public libraries addressing social inclusion: how we may think...". 
Tulisan Prof Ina Fourie ini membahas tentang identifikasi permasalahan, kompleksitas, target kelompok, capaian kegiatan, solusi permasalahan, layanan dan inisiatif yang diperlukan, keterampilan penelitian, penelusuran subjek literatur, pengetahuan diri, survei literatur dan penelitian konsep inklusi sosial yang mengacu pada semua upaya dan kebijakan untuk mempromosikan kesetaraan, kesempatan kepada semua orang dari berbagai keadaan dan katagori untuk mengkases dan mendayagunakan perpustakaan.  
Konsep inklusi sosial
Konsep ini mendapatkan perhatian yang luas setelah dibahas pada Konferensi Tingkat Tinggi World Summit for Social Development, Copenhagen, Denmark, 6-12 March 1995 atau dikenal dengan Copenhagen Declaration on Social Development. Deklarasi pembangunan sosial ini menekankan pada konsensus program aksi baru tentang perlunya menempatkan masyarakat di pusat pembangunan. 
Pertemuan terbesar para pemimpin dunia ini yang dihadiri oleh kepala negara maupun pemerintah berjanji untuk menanggulangi kemiskinan, mendorong masyarakat yang stabil, aman, dan adil bagi masyarakat sebagai tujuan utama dalam pembagunan

layanan perpustakaan berbasis inklusi sosial
dalam pelayanannya perpustakaan harus menerapkan inklusi sosial agar tidak terjadi perbedaan dalam pandangan. sebagai calon pustakawan kita tidak dapat membedakan dalam pemberian layanan informasi dari orang satu dengan orang lainnya. perpustakaan yang sering mengadopsi sistem inklusi sosial adalah perpustakaan desa, Taman Baca Masyarakat, dan juga perpustakaan keliling.














KNOWLEDGE MANAGEMENT

Manajemen pengetahuan (knowledge management) ialah suatu rangkaian kegiatan yang digunakan oleh organisasi atau perusahaan untuk mengidentifikasi, menciptakan, menjelaskan, dan mendistribusikan pengetahuan untuk digunakan kembali, diketahui, dan dipelajari di dalam organisasi. Kegiatan ini biasanya terkait dengan objektif organisasi dan ditujukan untuk mencapai suatu hasil tertentu seperti pengetahuan bersama, peningkatan kinerja, keunggulan kompetitif, atau tingkat inovasi yang lebih tinggi.

Konsep manajemen pengetahuan ini meliputi pengelolaan sumber daya manusia (SDM) dan teknologi informasi (TI) dalam tujuannya untuk mencapai organisasi perusahaan yang semakin baik sehingga mampu memenangkan persaingan bisnis. Perkembangan teknologi informasi memang memainkan peranan yang penting dalam konsep manajemen pengetahuan. Hampir semua aktivitas kehidupan manusia akan diwarnai oleh penguasaan teknologi informasi, sehingga jika berbicara mengenai manajemen pengetahuan tidak lepas dari pengelolaan.

Jenis Penerapan Knowledge Management
1. Tacit Knowledge
Pada dasarnya tacit knowledge bersifat personal, dikembangkan melalui pengalaman yang sulit untuk diformulasikan dan dikomunikasikan (Carrillo et al.,2004). Tacit knowledge tidak dinyatakan dalam bentuk tulisan, melainkan sesuatu yang terdapat dalam benak orang-orang yang bekerja di dalam suatu organisasi.

2. Explicit Knowledge
Explicit knowledge bersifat formal dan sistematis yang mudah untuk dikomunikasikan dan dibagi (Carrillo et al., 2004). Menurut pernyataan Polanyi (1966) pada saat tacit knowledge dapat dikontrol dalam benak seseorang, explicit knowledge justru harus bergantung pada pemahaman dan aplikasi secara tacit, maka dari itu semua pengetahuan berakar dari tacit knowledge.


Elemen Pokok Knowledge
1. People
Yang berarti Knowledge Management berasal dari orang. People merupakan bentuk dasar untuk membentuk knowledge baru. Tanpa ada orang tidak akan ada knowledge.

2. Technology
Merupakan infrastruktur teknologi yang standar, konsisten, dan dapat diandalkan dalam mendukung alat-alat perusahaan.

3. Processes
Yang terdiri dari menangkap, menyaring, mengesyahkan, mentransformasikan, dan menyebarkan knowledge ke seluruh perusahaan dilengkapi dengan menjalankan prosedur dan proses tertentu.

reference:
PERBEDAAN SENTRALLISASI DAN DESENTRALISASI

Sentralisasi
Sentralisasi sendiri kemudian memberikan wujud pemusatan segala macam wewenang yang dimana diberikan kepeda beberapa manajer atau yang dimana merupakan sebuah pemegang posisi puncak yang ada pada sebuah organisasi. Kemudian, sentralisasi sendiri kemudian banyak digunakan oleh para pemerintah Indonesia ketika berada orde lama dan orde baru sebelum dilaksanakannya sebuah otonomi daerah. Kelemahannya dari sentralisasi sendiri kemudian adalah segala macam keputusan dan juga kebijakan kemudian berasal dari daerah akan ditentukan oleh orang yang berada di dalam pemerintah pusat.

Desentralisasi 

Desentralisasi adalah segala macam penyerahan urusan yang dilakukan pemerintah terhadap pemerintah pusat untuk daerah otonom yang dimana kemudian berasaskan otonomi. Kemudian, pengertian tersebut kemudia telah disesuaikan dengan Undang Undang nomor 23 tahun 2014 yang dimana desentralisasi sendiri kemudian muncul lah sebuah otonomi bagi para pemerintah daerah. Kemudian, desentralisasi sendiri secara keorganisasian yang dilaksanakan secara sederhana memberikan sebuah definisi sebagai bentuk dari penyerahan kewenangan. Desentralisasi kemudian sering pula dikaitkan dengan sistem pemerintahan karena saat ini memberikan perubahan paradigma pada pemerintahan Indonesia.


reference:

Perkembangan Revolusi Industri 4.0 (Industrial Revolution 4.0)


Revolusi industri generasi keempat ini ditandai dengan kemunculan superkomputer, robot pintar, kendaraan tanpa pengemudi, editing genetik dan perkembangan neuroteknologi yang memungkinkan manusia untuk lebih mengoptimalkan fungsi otak. Hal inilah yang disampaikan oleh Klaus Schwab, Founder dan Executive Chairman of the World Economic Forum dalam bukunya The Fourth Industrial Revolution.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengubah dunia sebagaimana revolusi generasi pertama melahirkan sejarah ketika tenaga manusia dan hewan digantikan oleh kemunculan mesin. Salah satunya adalah kemunculan mesin uap pada abad ke-18. Revolusi ini dicatat oleh sejarah berhasil mengerek naik perekonomian secara dramatis di mana selama dua abad setelah Revolusi Industri terjadi peningkatan rata-rata pendapatan perkapita Negara-negara di dunia menjadi enam kali lipat.

1. Akhir abad ke-18
evolusi industri yang pertama terjadi pada akhir abad ke-18. Ditandai dengan ditemukannya alat tenun mekanis pertama pada 1784. Kala itu, industri diperkenalkan dengan fasilitas produksi mekanis menggunakan tenaga air dan uap. Peralatan kerja yang awalnya bergantung pada tenaga manusia dan hewan akhirnya digantikan dengan mesin tersebut. Banyak orang menganggur tapi produksi diyakini berlipat ganda.
2. Awal abad ke-20
Revolusi industri 2.0 terjadi di awal abad ke-20. Kala itu ada pengenalan produksi massal berdasarkan pembagian kerja. Lini produksi pertama melibatkan rumah potong hewan di Cincinati pada 1870.
3. Awal tahun 1970
Pada awal tahun 1970 ditengarai sebagai perdana kemunculan revolusi industri 3.0. Dimulai dengan penggunaan elektronik dan teknologi informasi guna otomatisasi produksi. Debut revolusi industri generasi ketiga ditandai dengan kemunculan  pengontrol logika terprogram pertama (PLC), yakni modem 084-969. Sistem otomatisasi berbasis komputer ini membuat mesin industri tidak lagi dikendalikan manusia. Dampaknya memang biaya produksi menjadi lebih murah.
4. Saat ini
Nah, sekaranglah zaman revolusi industri 4.0 yang ditandai dengan sistem cyber-physical. Saat ini industri mulai menyentuh dunia virtual, berbentuk konektivitas manusia, mesin dan data, semua sudah ada di mana-mana. Istilah ini dikenal dengan nama internet of things.
Rupanya Presien Joko Widodo cukup jeli melihat peluang ini dan dianggap bisa menyumbang penciptaan lapangan kerja lebih banyak serta investasi baru yang berbasis teknologi. Sehingga dibentuklah roadmap dengan nama Making Indonesia 4.0.
HOLLAAAAAA!!!!!!
 sekarang kita akan membahas mengenai kurasi digital. bagi anak ilmu perpustakaan pasti tidak asing dengan namanya kurasi digital. nah, kita akan membahas sekarangggggggg........



KURASI DIGITAL

Kurasi adalah penyimpanan yang berkaitan dengan informasi agar lebih mudah untuk di akses dan dapat bermanfaat dalam jangka panjang.
Menurut Mills, kurasi digital adalah pengayakan dan agresi dari internet dan sumber daya lainnya menjadi koleksi agar dapat di akses oleh pengguna secara mudah, relevan, personal dan dinamis.

Adapun element pendukung kurasi dalam prestasi informasi yaitu:
a. Perangkat Keras
    Perangkat keras disini seperti komputer yang digunakan untuk sistem automasi perpustakaan dan mesin OPAC untuk membuat pencarian koleksi lebih mudah.


B. Perangkat Lunak (Sofware)
   Perpustakaan dalam menghadapi kemajuan teknologi yakni dengan mengelola perpustakaan menggunakan software atau aplikasi perpustakaan untuk sistem informasi manajemen perpustakaan.

C. Manusia (Brainware)
   Dalam menjalankan perpustakaan yang sudah didigitalisasi dengan komputer, manusia tetap mempunyai peran yang sangat penting untuk menjalankan perangkat teknologi tersebut.

referense:

ANALISIS SWOT





Analisis SWOT adalah sebuah bentuk analisa situasi dan juga kondisi yang bersifat deskriptif (memberi suatu gambaran). Analisa ini menempatkan situasi dan juga kondisi sebagai sebagai faktor masukan, lalu kemudian dikelompokkan menurut kontribusinya masing-masing. Satu hal yang perlu diingat baik-baik oleh para pengguna analisa ini, bahwa analisa SWOT ini semata-mata sebagai suatu sebuah analisa yang ditujukan untuk menggambarkan situasi yang sedang dihadapi, dan bukan sebuah alat analisa ajaib yang mampu memberikan jalan keluar yang bagi permasalahan yang sedang dihadapi.
SWOT adalah singkatan dari:
  • S = Strength (kekuatan).
  • W = Weaknesses (kelemahan).
  • O = Opportunities (Peluang).
  • T = Threats (hambatan)
1.      Strengths ( kekuatan )
Pada perpustakaan sekolah di SD Negeri X ini dalam hal kekuatan, perpustakaan ini sudah memiliki kekuatan yang cukup baik untuk sekelas perpustakaan sekolah dasar di kecamatan Dempet. Hal ini secara rinci ditandai dengan :
1)      Gedung yang cukup baik. Gedung perpustakaan ini terbilang baru, karena dibangun pada tahun 2011.
2)      Pencahayaan yang memadahi. Desain gedung perpustakaan sekolah di SD Negeri X kebanyakan memanfaatkan pencahayaan alami dari sinar matahari. Hal ini ditandai dengan penyediaan jendela yang cukup pada gedung ini, agar sinar matahari dapat masuk secara menyeluruh. Sehingga ketika terdapat siswa ataupun guru yang berkunjung ke perpustakaan untuk membaca tidak mengalami kesulitan.
3)      Sirkulasi udara yang memadahi. Sirkulasi udara ini merupakan faktor penting dalam sebuah perpustakaan. Karena dengan adanya sirkulasi udara yang baik. pengunjung perpustakaan pun akan merasa nyaman untuk berada di perpustakaan. Sirkulasi udara yang baik ini ditandai dengan adanya jendela dan fentilasi udara yang memadahi.
4)      Terdapat label nama untuk setiap rak buku. Label nama ini berfungsi untuk mempermudah pengunjung perpustakaan dalam mencari buku berjenis fiksi, ilmiah dan lain sebagainya.
5)      Keadaan perpustakaan yang bersih dan rapi. Perpustakaan sekolah ini cenderung rapi dan bersih. Karena setiap harinya, pustakawan biasanya membersihkan dan merapikan perpustakaan ini.
6)      Pustakawan yang ramah. Di dalam perpustakaan ini memiliki seorang pustakawan. Pustakawan tersebut terbilang cukup ramah.

2.      Weaknesses ( kelemahan )
Selain memiliki kekuatan yang cukup memadahi, perpustakaan sekolah di SD Negeri X ini juga memiliki beberapa kelemahan yang mendasar. Kelemahan tersebut utamanya terdapat pada bidang teknologi. Secara rinci, kelemahan yang terdapat dalam perpustakaan ini adalah sebagai berikut.
1)      Segala kegiatan pelayanan dalam perpustakaan sekolah ini masih menggunakan sistem manual. Karena dalam perpustakaan ini tidak terdapat komputer maupun printer. Komputer dan printer disediakan di ruang guru saja. Meskipun demikian, terkadang pustakawan / petugas perpustakaan membawa laptop pribadi.
2)      Koleksi buku yang kurang. Keadaan ini tentunya didasari karena kurangnya biaya dalam pengadaan buku. Kebanyakan buku yang terdapat dalam perpustakaan sekolah ini merupakan buku yang diperoleh dari dana BOS. Jadi pengadaan buku ini bergantung pada dana dari BOS.
3)      Hanya terdapat meja, kursi dan rak buku. Secara umum, untuk memancing minat membaca siswa, dalam segi desain kurang menarik karena hanya terdapat meja, kursi dan rak buku saja.

3.      Opportunities ( peluang/ kesempatan )
Dalam kaitannya dengan kekuatan dan kelemahan, tentunya suatu perpustakaan memiliki peluang atau kesempatan agar dapat semakin berkembang. Berikut merupakan peluang atau kesempatan yang didapatkan dari perpustakaan sekolah di SD Negeri X
1)      Melakukan kerjasama dengan sebuah penerbit, agar mendapatkan stok buku. Sehingga koleksi buku di perpustakaan sekolah SD Negeri X ini memadahi dan terpenuhi. Minat baca siswa pun dapat semakin meningkat.
2)      Pengadaan teknologi, seperti komputer untuk meningkatkan pelayanan sekolah. Pengadaan komputer ini dapat dilakukan dengan meminta bantuan pemerintah ataupun dengan pengadaan uang pribadi sekolah.
3)      Pengadaan sistem online. Hal ini diperlukan karena mengingat dewasa ini banyak siswa yang telah memiliki smartphone, maka dari itu perlu dibentuk perpustakaan sekolah online. Selain itu meningkatkan kualitas perpustakaan, hal ini juga diperlukan sebagai bentuk tindakan pencegahan atau penanggulangan dari ancaman yang terjadi.

4.      Threats ( Ancaman )
Tidak dapat dipungkiri bahwa dewasa ini perkembangan zaman secara tidak langsung berperan penting dalam perkembangan perpustakaan. Peran ini wujudnya dapat berupa suatu ancaman. Selain perkembangan zaman, terdapat faktor – faktor lain pula. Ancaman ini dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu ancaman dari luar dan dalam yang diantaranya adalah sebagai berikut.
1)      Dalam
Ancaman dari dalam adalah ancaman yang bersumber dari dalam perpustakaan itu sendiri baik berhubungan dengan sistem, keadaan maupun pelayanan. Berikut merupakan bentuk – bentuk ancaman dari dalam.
(1)   Kurangnya koleksi buku. Keadaan ini dapat dikatakan sebagai kelemahan, akan tetapi jika dikaji lebih menyeluruh dengan memandang berbagai aspek yang ada, keadaan ini dapat dikategorikan menjadi suatu ancaman pula. Hal ini dapat dijelaskan bahwa jika koleksi buku kurang, maka minat baca siswa pun kurang. Minat baca siswa yang kurang dapat menurunkan kunjungan dari siswa.
(2)   Pelayanan yang masih manual. Karena masih menggunakan sistem manual, tentunya hal ini akan merepotkan, selain itu, siswa pun jadi kurang tertarik untuk mengunjungi perpustakaan. Jika siswa tidak tertarik dengan perpustakaan, maka dapat dipastikan bahwa perpustakaan akan jarang dikunjungi oleh siswa
2)      Luar
Ancaman dari luar adalah ancaman yang bersumber di luar keadaan perpustakaan itu sendiri. Berikut merupakan bentuk – bentuk ancaman dari dalam.
(1)   Sudah tersedianya buku yang dapat diunduh secara online. Karena sudah berkembangnya zaman, maka siswa lebih memilih untuk mengunduh buku secara online. Hal tersebut dilatarbelakangi karena faktor kepraktisan. Keadaan ini secara tidak langsung dapat membuat perpustakaan sekolah di SD Negeri X menjadi sepi pengunjung, sebab siswanya lebih memilih untuk mengunduh buku secara online.
(2)   Sudah banyak siswa yang menggunakan smartphone. Keadaan ini tidak dapat dipungkiri lagi, karena mengingat dewasa ini kehidupan secara ekonomi warga Indonesia cukup meningkat. Jadi para orangtua biasanya membekali anak – anak mereka dengan smartphone. Penggunaansmartphone ini dapat menjadi ancaman bagi perpustakaan, karena segala informasi yang didapat oleh siswa dapat dilakukan dengan mengandalkan internet tidak harus berkunjung ke perpustakaan. Selain itu, penggunaan smartphone ini juga dapat membuat minat baca siswa berkurang. Karena siswa lebih tertarik untuk bermain smartphone dibandingkan dengan berkunjung ke perpustakaan.