Inklusi sosial adalah upaya menempatkan martabat dan kemandirian individu sebagai modal utama untuk mencapai kualitas hidup yang ideal.
IFLA dan Inklusi sosial
The International Federation of Library Associations and Institutions (IFLA) mulai membahas pada tahun 2007 pada pertemuan World library and information congress: 73rd ifla general conference and council 19-23 august 2007, durban, south africa.
Konsep inklusi sosial pertama kali muncul pada tahun 1970-an di Prancis sebagai respon terhadap krisis kesejahteraan di negara-negara Eropa, yang memiliki dampak yang meningkat pada kerugian sosial di Eropa. Konsep ini menyebar ke seluruh Eropa dan Inggris sepanjang tahun 1980-an dan 90-an.
Melalui tulisan Prof Ina Fourie Department of Information Science, University of Pretoria dengan judul tulisan "Public libraries addressing social inclusion: how we may think...".
Tulisan Prof Ina Fourie ini membahas tentang identifikasi permasalahan, kompleksitas, target kelompok, capaian kegiatan, solusi permasalahan, layanan dan inisiatif yang diperlukan, keterampilan penelitian, penelusuran subjek literatur, pengetahuan diri, survei literatur dan penelitian konsep inklusi sosial yang mengacu pada semua upaya dan kebijakan untuk mempromosikan kesetaraan, kesempatan kepada semua orang dari berbagai keadaan dan katagori untuk mengkases dan mendayagunakan perpustakaan.
Konsep inklusi sosial
Konsep ini mendapatkan perhatian yang luas setelah dibahas pada Konferensi Tingkat Tinggi World Summit for Social Development, Copenhagen, Denmark, 6-12 March 1995 atau dikenal dengan Copenhagen Declaration on Social Development. Deklarasi pembangunan sosial ini menekankan pada konsensus program aksi baru tentang perlunya menempatkan masyarakat di pusat pembangunan.
Pertemuan terbesar para pemimpin dunia ini yang dihadiri oleh kepala negara maupun pemerintah berjanji untuk menanggulangi kemiskinan, mendorong masyarakat yang stabil, aman, dan adil bagi masyarakat sebagai tujuan utama dalam pembagunan.
layanan perpustakaan berbasis inklusi sosial
dalam pelayanannya perpustakaan harus menerapkan inklusi sosial agar tidak terjadi perbedaan dalam pandangan. sebagai calon pustakawan kita tidak dapat membedakan dalam pemberian layanan informasi dari orang satu dengan orang lainnya. perpustakaan yang sering mengadopsi sistem inklusi sosial adalah perpustakaan desa, Taman Baca Masyarakat, dan juga perpustakaan keliling.
Inklusi sosial adalah upaya menempatkan martabat dan kemandirian individu sebagai modal utama untuk mencapai kualitas hidup yang ideal.
IFLA dan Inklusi sosial
The International Federation of Library Associations and Institutions (IFLA) mulai membahas pada tahun 2007 pada pertemuan World library and information congress: 73rd ifla general conference and council 19-23 august 2007, durban, south africa.
Konsep inklusi sosial pertama kali muncul pada tahun 1970-an di Prancis sebagai respon terhadap krisis kesejahteraan di negara-negara Eropa, yang memiliki dampak yang meningkat pada kerugian sosial di Eropa. Konsep ini menyebar ke seluruh Eropa dan Inggris sepanjang tahun 1980-an dan 90-an.
Melalui tulisan Prof Ina Fourie Department of Information Science, University of Pretoria dengan judul tulisan "Public libraries addressing social inclusion: how we may think...".
Tulisan Prof Ina Fourie ini membahas tentang identifikasi permasalahan, kompleksitas, target kelompok, capaian kegiatan, solusi permasalahan, layanan dan inisiatif yang diperlukan, keterampilan penelitian, penelusuran subjek literatur, pengetahuan diri, survei literatur dan penelitian konsep inklusi sosial yang mengacu pada semua upaya dan kebijakan untuk mempromosikan kesetaraan, kesempatan kepada semua orang dari berbagai keadaan dan katagori untuk mengkases dan mendayagunakan perpustakaan.
Konsep inklusi sosial
Konsep ini mendapatkan perhatian yang luas setelah dibahas pada Konferensi Tingkat Tinggi World Summit for Social Development, Copenhagen, Denmark, 6-12 March 1995 atau dikenal dengan Copenhagen Declaration on Social Development. Deklarasi pembangunan sosial ini menekankan pada konsensus program aksi baru tentang perlunya menempatkan masyarakat di pusat pembangunan.
Pertemuan terbesar para pemimpin dunia ini yang dihadiri oleh kepala negara maupun pemerintah berjanji untuk menanggulangi kemiskinan, mendorong masyarakat yang stabil, aman, dan adil bagi masyarakat sebagai tujuan utama dalam pembagunan.
layanan perpustakaan berbasis inklusi sosial
dalam pelayanannya perpustakaan harus menerapkan inklusi sosial agar tidak terjadi perbedaan dalam pandangan. sebagai calon pustakawan kita tidak dapat membedakan dalam pemberian layanan informasi dari orang satu dengan orang lainnya. perpustakaan yang sering mengadopsi sistem inklusi sosial adalah perpustakaan desa, Taman Baca Masyarakat, dan juga perpustakaan keliling.

Wow bermanfaat syekali😍
BalasHapusSuka syekali informasinya
BalasHapusGomawo 😊
Wow mantap
BalasHapusMantul
BalasHapus